A.MATERI PELAJARAN
1.
Pengertian
Materi Pelajaran
Materi
pelajaran merupakan pengetahuan, keterampilan, serta sikap yang harus dimiliki
dan dikuasai oleh para peserta didik dalam rangka untuk memenuhi standar
kompetensi yang ditetapkan. Jadi dengan kata lain materi pelajaran itu adalah
sarana untuk mencapai tujuan dari sebuah pembelajaran. Secara umum materi
pelajaran terbagi menjadi tiga jenis yakni yang pertama adalah informasi, alat,
atau teks yang diperlukan guru untuk merancang suatu pembelajaran. Yang kedua
adalah segala bahan yang digunakan guru untuk membantu mengajar di dalam kelas.
Dan yang ketiga adalah seperangkat substansi pembelajaran yang telah disusun
secara sistematis.
Ada beberapa hal yang harus di
perhatikan dalam menetapkan materi pelajaran diantaranya :
·
Materi pelajaran harus sesuai dan menunjang
tercapainya tujuan instruksional.
·
Materi pelajaran hendaknya sesuai dengan tingkat
pendidikan atau perkembangan siswa pada umumnya.
·
Menetapkan materi pembelajaran harus serasi dengan
urutan tujuan.
Urutan materi pelajaran hendaknya
memperhatikan kesinambungan (kontinuitas).
·
Materi pelajaran di susun dari hal yang sederhana
menuju yang komplek, dari yang mudak menuju yang sulit, dari yang konkret
menuju yang abstark. Dengan cara ini siswa akan mudah memahaminya.
·
Materi pelajaran hendaknya mencakup hal-hal yang
bersifat factual maupun konseptual.
2.
Aspek – Aspek Materi
Kalau kita mempelajari lebih dalam
mengetahui materi pelajaran ,maka kita
akan dapat melihat adanya berbagai aspek yang antara lain : konsep fakta,
proses , nilai keterampilan , bahkan juga terdapat sejumlah masalah-masalah yang ada kaitannya dengan kehidupan
masyarakat.
Istilah
– istilah tersebut pada garis besarnya ialah :
1.
Konsep adalah
suatu idea tau gagasan atau suatu pengertian yang umum, misalnya meliputi
definisi lingkaran,.
2.
Prinsip adalah
suatu kebenaran dasar sebagai titik tolak untuk berpikir atau merupakan suatu
petunjuk untuk berbuat / melaksanakan sesuatu , meliputi dalil, rumus,
postulat, teorema.
3.
Fakta adalah
sesuatu yang telah terjadi atau yang
telah dikerjakan/dialami.Mungkin berupa hal , objek atau keadaan.Jadi bukan sesuatu yang diinginkan atau pendapat atau teori.
4.
Proses adalah
serangkaian perubahan , gerakan – gerakan perkembangan . Suatu proses dapat
terjadi secara sadar tidak disadari. Dapat
juga merupakan cara melaksanakan kegiatan operasional (misalnya di
pabrik) atau proses pembuatan tempe, proses perubahan warna pada daun yang kena
hama wereng dan sebagainya.
5.
Nilai adalah
suatu pola, ukuran atau merupakan suatu tipe atau model . Umumnya nilai
bertalian dengan pengakuan atau kebenaran yang bersifat umum, tentang baik atau
buruk.
6.
Keterampilan
adalah kemampuan berbuat sesuatu dengan baik. Berbuat dapat berarti secara
jasmaniah ( menulis, berbicara dan sebagainya) Biasanya kedua aspek tersebut
tidak terlipas satu sama lain.
3.
Prinsip-Prinsip Penentuan Materi
Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar
dalam menentukan materi pembelajaran adalah kesesuaian (relevansi), keajegan
(konsistensi), dan kecukupan (adequacy).
a) Relevansi artinya
kesesuaian.
Materi pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian
standar kompetensi dan pencapaian kompetensi dasar. Jika kemampuan yang
diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka materi
pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip
ataupun jenis materi yang lain. Misalnya : kompetensi dasar yang harus dikuasai
peserta didik adalah ” Mengidentifikasi sifat-sifat kubus, balok, prisma dan
limas serta bagian-bagiannya maka
pemilihan materi pembelajaran yang disampaikan seharusnya ”Referensi tentang
sifat-sifat bab
bagian dari kubus,balok,prisma dan limas” (materi konsep), bukan menentukan
volume dari kubus,balok,prisma dan limas. (materi prosedur).
b) Konsistensi artinya
keajegan.
Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik ada empat
macam, maka materi yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam.
Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah Operasi
Aljabar bilangan bentuk akar (Matematika Kelas X semester 1) yang meliputi
penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan
juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan
merasionalkan pecahan bentuk akar.
c) Adequacy artinya kecukupan.
Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu
peserta didik menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh
terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit maka
kurang membantu tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Sebaliknya, jika terlalu banyak maka akan mengakibatkan keterlambatan dalam
pencapaian target kurikulum (pencapaian keseluruhan SK dan KD).
Adapun dalam pengembangan materi pembelajaran guru harus
mampu mengidentifikasi Materi Pembelajaran dengan mempertimbangkan hal-hal di
bawah ini:
1. potensi peserta didik;
2.
relevansi dengan karakteristik daerah;
3.
tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual
peserta didik;
4.
kebermanfaatan bagi peserta didik;
5.
struktur keilmuan;
6.
aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
7.
relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
8.
alokasi waktu.
3. Kriteria Pemilihan Materi Pelajaran
Materi
pelajaran berada dalam ruang lingkup isi kurikulum. Karena itu , pemilihan
materi pelajaran tentu saja harus sejalan dengan ukuran – ukuran (criteria)
yang digunakan untuk memilih isi kurikulum bidang studi bersangkutan. Kriteria
pemilihan materi pelajaran yang akan dikembangkan dalam system instuksional dan
yang mendasari penentuan strategi belajar mengajar :
a)
Kriteria
tujuan istruksional
b)
Suatu
materi pelajaran yang terpilih dimaksudkan untuk mencapai tujuan instruksional
khusus atau tujuan – tujuan tingkah laku. Karena itu, materi tersebut supaya
sejalan dengan tujuan – tujuan yang telah dirumuskan.
c)
Materi
pelajaran supaya terjabar
d)
Perincian
materi pelajaran berdasarkan pada tuntutan dimana setiap TIK telah dirumuskna
secara spesifik , dapat diamati dan terukur. Ini berarti terdapat keterkaitan
yang erat antara spesifikasi tujuan dan
spesifikasi materi pelajaran.
e)
Relevan
dengan kebutuhan siswa
f)
Kebutuhan
siswa yang pokok adalah bahwa mereka ingin berkembang berdasarkan potensi yang dimilikinya. Karena berkembang
berdasarkan potensi yang dimilikinya.
g)
Karena
setiap materi pelajaran yang akan disajikan hendaknya sesuai dengan usaha untuk
mengembangkan pribadi siswa secara bulat dan utuh. Beberapa aspek di antaranya
adalah pengetahuan ,sikap, nilai dan keterampilan.
h)
Kesesuaian
dengan kondisi masyarakat
i)
Siswa
dipersiapkan untuk menjadi warga masyarakat yang berguna dan mampu hidup mandiri. Dalam hal ini, materi pelajaran
yang dipilih hendaknya turut membantu mereka memberikan pengalaman edukatif
yang bermakna bagi perkembangan mereka menjadi manusia yang mudah menyesuaikan diri.
j)
Materi
pelajaran mengandung segi-segi etik
k)
Materi
pelajaran yang akan dipilih hendaknya
mempertimbangkan segi perkembangan moral siswa kelak.Pengetahuan dan
keterampilan yang bakal mereka peroleh dari materi pembelajaran yang telah
mereka terima di arahkan untuk mengembangkan dirinya sebagai manusia yang etik
sesuai dengan system nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakatnya.
l)
Materi
pelajaran tersusun dalam ruang lingkup dan urutan yang sistematik dan logis.
m)
Setiap
materi pelajaran disusun secara bulat dan menyeluruh, terbatas ruang lingkupnya
dan terpusat pada satu topic masalah tertentu. Materi disusun secara berurutan
dengan mempertimbangkan factor perkembangan psikologis siswa . Dengan cara ini
diharapkan isi materi tersebut akan lebih mudah diserap oleh si siswa dan dapat
segera dilihat keberhasilannya.
n)
Materi
pelajaran bersumber dari buku sumber yang baku, pribadi guru yang ahli, dan
masyarakat.
4. Langkah-Langkah
Penentuan Materi Pembelajaran
a)Identifikasi
standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Sebelum menentukan
materi pembelajaran terlebih
dahulu perlu di identifikasi aspek- aspek keutuhan
kompetensi yang harus dipelajari atau dikuasai
peserta didik. Aspek tersebut perlu ditentukan, karena
setiap standar kompetensi dan
kompetensi dasar memerlukan jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan
pembelajaran. Harus ditentukan apakah standar kompetensi dan
kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik termasuk ranah
kognitif, psikomotor ataukah afektif.
b)Identifikasi
Jenis-Jenis Materi Pembelajaran
Identifikasi dilakukan berkaitan dengan kesesuaian materi
pembelajaran dengan tingkatan aktivitas/ranah pembelajarannya.
Materi yang sesuai untuk
ranah kognitif ditentukan berdasarkan perilaku yang menekankan aspek
intelektual,seperti pengetahuan, pengertian,dan keterampilan berpikir.
Materi
yang akan dibelajarkan perlu diidentifikasi
secara tepat agar pencapaian kompetensinya dapat diukur. Di samping itu,
dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang akan dibelajarkan,maka guru
akan mendapatkan ketepatan dalam metode
pembelajarannya. Sebab,setiap jenis materi
pembelajaran memerlukan strategi, metode, media, dan sistem evaluasi yang
berbeda-beda.
c)
Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi
dasar.
Cara yang paling mudah untuk menentukan jenis materi
pembelajaran yang
akan dibelajarkan adalah dengan mengetahui tentang kompetensi dasar yang
harus dikuasai peserta didik. Dengan mengacu pada kompetensi dasar, kita
akan mengetahui apakah materi yang harus kita belajarkan berupa
fakta,konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap, atau keterampilan
motorik.
contohnya:
Kompetensi
dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa kemampuan untuk menyatakan suatu
definisi ,menuliskan ciri khas sesuatu, mengklasifikasikan atau mengelompokkan
beberapa contoh objek sesuai dengan suatu definisi. Berarti materi yang
diajarkan adalah “konsep”.
d)
Memilih Sumber Bahan Ajar
Setelah jenis materi ditentukan langkah berikutnya adalah
menentukan
sumber bahan ajar. Materi pembelajaran atau bahan ajar dapat kita temukan dari
berbagai sumber seperti buku pelajaran , internet dan sebagainya.
5. Penentuan
Cakupan Dan Urutan Penyajian Bahan Ajar
Bahan ajar merupakan
informasi, alat dan teks
yang diperlukan
guru/instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/
instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas.
A.Penentuan
Cakupan Bahan Ajar
Dalam menentukan cakupan atau ruang lingkup materi
pembelajaran harus
memperhatikan beberapa aspek berikut
a)
Aspek kognitif (fakta, konsep, prinsip, prosedur), aspek afektif, ataukah
aspek psikomotor, karena ketika sudah diimplementasikan dalam proses
pembelajaran maka tiap-tiap jenis uraian materi
tersebut memerlukan strategi
dan media pembelajaran yang
berbeda-beda.Selain memperhatikan jenis
materi juga harus memperhatikan
prinsip-prinsip yang perlu digunakan dalam menentukan cakupan
materi pembelajaran yang menyangkut keluasan dan kedalaman
materinya.
b)Keluasan
cakupan materi berarti menggambarkan seberapa banyak
materi-materi yang dimasukkan
ke dalam suatu materi pembelajaran.
Kedalaman materi menyangkut rincian konsep-konsep yang terkandung
di dalamnya yang harus dipelajari oleh peserta didik.
c)Kecukupan
(adequacy) atau memadainya cakupan materi juga perlu diperhatikan. Memadainya
cakupan aspek materi dari suatu materi pembelajaran
akan sangat membantu
tercapainya penguasaan kompetensi dasar yang telah
ditentukan.Cakupan atau ruang lingkup materi perlu ditentukan untuk
mengetahui
apakah materi yang akan diajarkan terlalu banyak, terlalu sedikit,
atau telah
memadai sehingga terjadi kesesuaian dengan kompetensi dasar yang
ingin
dicapai.
B.Urutan
Penyajian Bahan Pembelajaran
Urutan penyajian berguna untuk menentukan urutan proses
pembelajaran.
Tanpa urutan yang tepat,
jika di antara beberapa materi
pembelajaran mempunyai hubungan yang bersifat prasyarat (prerequisite) akan
menyulitkan
peserta didik dalam
mempelajarinya.Misalnya, materi operasi
bilangan
penjumlahan, pengurangan, perkalian,
dan pembagian. Peserta didik
akan
mengalami kesulitan mempelajari pengurangan jika materi penjumlahan belum
dipelajari.Peserta didik akan mengalami kesulitan melakukan pembagian
jika
materi perkalian belum dipelajari.
6. Cara pemilihan materi
Dengan mengacu pada syarat dari materi pelajaran, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam memilih atau menetapkan materi pelajaran :
a. Tujuan pengajaran
Materi pelajaran hendaknya ditetapkan dengan mengacu pada
tujuan – tujuan instruksional yang ingin dicapai.
b. Pentingnya bahan
Materi yang diberikan hendaknya merupakan bahan yang betul –
betul penting , baik dilihat dari tujuan yang ingin dicapai maupun fungsinya
untuk mempelajari bahan berikutnya.
c. Nilai praktis
Materi yang dipilih hendaknya bermakna bagi para siswa ,
dalam arti mengandung bilai praktis atau bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.
d. Tingkat perkembangan
peserta didik
Kedalaman materi yang dipilih hendaknya ditetapkan dengan
memperhitungkan tingkat perkembangan berpikir siswa yang bersangkutan, dalam
hal ini biasanya telah dipertimbangkan dalam kurikulum sekolah yang
bersangkutan.
e. Tata urutan
Materi yang diberikan hendaknya ditata dalam urutan yang
memudahkan dipelajarinya keseluruhan materi oleh peserta didik atau siswa.
A.Contoh materi pelajaran kelas xi smester 2
FAKTORISASI SUKU ALJABAR
Tujuan pembelajaranmu pada bab
ini adalah:
- Dapat
menyelesaikan operasi tambah, kurang, kali, bagi, dan pangkat pada bentuk
aljabar;
- Dapat
menentukan faktor suku aljabar;
- Dapat
menguraikan bentuk aljabar ke dalam faktor-faktornya.
- Dapat
melukis segitiga yang diketahui tiga sisinya, dua sisi satu sudut apitnya
atau satu sisi dan dua sudut;
- Dapat
melukis segitiga sama sisi dan segitiga sama kaki;
- Dapat
melukis garis tinggi, garis bagi, garis berat, dan garis sumbu.
FUNGSI
Tujuan Pembelajaran BAB ini adalah :
- Dapat
menjelaskan dengan kata-kata dan menyatakan masalah sehari-hari yang
berkaitan dengan relasi dan fungsi;
- Dapat
menyatakan suatu fungsi dengan notasi;
- Dapat
menghitung nilai fungsi;
- Dapat
menentukan bentuk fungsi jika nilai dan data fungsi diketahui;
- Dapat
menyusun tabel pasangan nilai peubah dengan nilai fungsi;
- Dapat
menggambar grafik fungsi pada koordinat Cartesius.
PERSAMAAN GARIS LURUS
Tujuan
pembelajaranmu pada bab ini adalah:
- Dapat
mengenal pengertian dan menentukan gradien garis lurus dalam berbagai
bentuk;
- Dapat
menentukan persamaan garis lurus yang melalui dua titik, melalui satu
titik dengan gradien tertentu;
- Dapat
menggambar grafik garis lurus.
SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL
Tujuan
pembelajaranmu pada bab ini adalah:
- Dapat
menyebutkan perbedaan persamaan linear dua variabel dan sistem persamaan
linear dua variabel;
- Dapat
mengenal sistem persamaan linear dua variabel dalam berbagai bentuk dan
variabel;
- Dapat
menentukan penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel dengan
substitusi dan eliminasi;
- Dapat
membuat model matematika dari masalah sehari-hari yang berkaitan dengan
sistem persamaan linear dua variabel;
- Dapat
menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan sistem
persamaan linear dua variabel dan penafsirannya.
TEOREMA PYTHAGORAS
Tujuan
pembelajaranmu pada bab ini adalah:
- Dapat
menemukan teorema Pythagoras;
- Dapat
menghitung panjang sisi segitiga siku-siku jika dua sisi lain diketahui;
- Dapat
menghitung perbandingan sisi-sisi segitiga siku-siku istimewa;
- Dapat
menghitung panjang diagonal pada bangun datar.
LINGKARAN
Tujuan
pembelajaranmu pada bab ini adalah:
- Dapat
menyebutkan unsur-unsur dan bagian-bagian lingkaran;
- Dapat
menemukan nilai phi;
- Dapat
menentukan rumus serta menghitung keliling dan luas lingkaran;
- Dapat
mengenal hubungan sudut pusat dan sudut keliling jika menghadap busur yang
sama;
- Dapat
menentukan besar sudut keliling jika menghadap diameter dan busur yang
sama;
- Dapat
menentukan panjang busur, luas juring, dan luas tembereng;
- Dapat
menggunakan hubungan sudut pusat, panjang busur, dan luas juring dalam
pemecahan masalah.
B.HAKEKAT
MATEMATIKA
1.1.
Pengertian Matematika
Istilah Matematika berasal dari bahasa Yunani, mathein danmathenemyang
berarti mempelajari.Kata matematika diduga erat hubungannya dengan kata
sansekerta, medha atau widya yang artinya kepandaian, ketahuan atau intelegensi.Kata matematika berasal dari
perkataan latin matematika yang mulanya diambil dari perkataan yunani
mathematike yang berarti mempelajari. Perkataan itu mempunyai asal katanya
mathemayang berarti pengetahuan dan ilmu (knowledge, science). Kata
matheimatike berhubungan pula dengan kata lainnya yang hampir sama, yaitu
mathein atau mathenein yang artinya belajar (berpikir). Pendefinisian
matematika sampai saat ini belum ada kesepakatan yang bulat, namun demikian
dapat dikenal melalui karakteristiknya.
Matematika tumbuh dan berkembang
karena proses berfikir, oleh karena itu logika adalah dasar untuk terbentuknya
matematika. Logika adalah masa bayi dari matematika, sebaliknya matematika
adalah masa dewasa dari logika.Sejalan dengan berkembangnya matematika, maka
banyak para ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai matematika.
Dengan memperhatikan
definisi matematika,
dapat diidentifikasi bahwa matematika jelas berbeda dengan mata pelajaran lain
dalam beberapa hal berikut, yaitu :
a. Objek pembicaraannya
abstrak, sekalipun dalam pengajaran di sekolah anak diajarkan benda kongkrit,
siswa tetap didorong untuk melakukan abstraksi;
b. Pembahasan mengandalkan
tata nalar, artinya info awal berupa pengertian dibuat seefisien mungkin,
pengertian lain harus dijelaskan kebenarannya dengan tata nalar yang logis;
c. Pengertian/konsep
atau pernyataan sangat jelas berjenjang sehingga terjaga konsistennya.
d. Melibatkan perhitungan
(operasi);
e. Dapat dipakai dalam
ilmu yang lain serta dalam kehidupan sehari-hari.
Dari definisi-definisi di atas,
dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan ilmu pengetahuan yang diperoleh
dengan bernalar yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat,
jelas, dan akurat, representasinya dengan lambang-lambang atau simbol dan
memiliki arti serta dapat digunakan dalam pemecahan masalah yang berkaitan
dengan bilangan.
1.2.
Hakekat Belajar Matematika
Pada
hakikatnya matematika itu adalah sebuah simbul, dan bersifat deduktif (dari
umum ke khusus) dan merupakan ilmu yang logis dan sistematis . Dalam ilmu
matematika terdapat istilah-istilah diantaranya :
a.
Aksioma
suatu
pernyataan yang dijadikan dalil atau dasar pemula yang kebenarannya tidak perlu
dibuktikan lagi.
b.
Definisi
Suatu pernyataan yang di jadikan
pembatas suatu konsep
c.
Yeorama
Pernyataan yang diturunkan dari aksioma yang kebenaranya
masi perlu di buktikan.
d.
Himpunan
Sekumpulan suatu himpunan yang mana dalam matematika
terdapat beberapa himpunan.
Dari uraian diatas dapat di ambil sebuah kesimpulan bahwa
matematika merupakan ilmu yang pasti dan bersifat sistematis. Dan tujuan
mempelajari matematika adalah :
- Melatih
cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan.
- Mengembangkan
aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi.
- Mengembangkan
kemampuan memecahkan masalah.
- Mengembangkan
kemampuan menyampaikan informasi.
Matematika mempelajari tentang keteraturan, tentang struktur
yang terorganisasikan, konsep-konsep
matematika tersusun secara hirarkis, berstruktur dan sistematika, mulai dari
konsep yang paling sederhana sampai pada konsep paling kompleks.
Dalam matematika objek dasar yang dipelajari adalah abtrak, sehingg
disebut objek mental, objek itu merupakan objek pikiran. Objek dasar itu
meliputi: Konsep, merupakan suatu ide abstrak yang digunakan untuk
menggolongkan sekumpulan obejk. Misalnya, segitiga merupakan nama suatu konsep
abstrak.
Dalam matematika
terdapat suatu konsep yang penting yaitu “fungsi”, “variabel”, dan “konstanta”.
Konsep berhubungan erat dengan definisi, definisi adalah
ungkapan suatu konsep, dengan adanya definisi orang dapat membuat ilustrasi
atau gambar atau lambing dari konsep yang dimaksud.Prinsip, merupakan objek
matematika yang komplek.
Prinsip dapat terdiri atas beberapa konsep yang dikaitkan
oleh suatu relasi/operasi, dengan kata lain prinsip adalah hubungan antara
berbagai objek dasar matematika. Prisip dapat berupa aksioma, teorema dan
sifat.
Operasi, merupakan pengerjaan hitung, pengerjaan aljabar,
dan pengerjaan matematika lainnya, seperti penjumlahan, perkalian, gabungan,
irisan. Dalam matematika dikenal macam-macam operasi yaitu operasi unair,
biner, dan terner tergantungd ari banyaknya elemen yang dioperasikan.
Penjumlahan adalah operasi biner karena elemen yang dioperasikan ada dua,
tetapi tambahan bilangan adalah merupakan operasi unair karena elemen yang
dipoerasika hanya satu.
Proses berpikir matematika disebut
proses berpikir aksiomatik karena pada dasarnya landasan berpikir matematika
adalah kesepakatan-kesepakatan yang disebut aksioma.
Hakekat matematika berkenaan dengan ide-ide struktur-
struktur dan hubungan-hubungannya yang diatur menurut urutan yang logis. Jadi
matematika berkenaan dengan konsep-konsep yang abstrak.Jika matematika
dipandang sebagai struktur dari hubungan-hubungan maka simbol-simbol formal
diperlukan untuk membantu memanipulasi aturan-aturan yang beroperasi di dalam
struktur-struktur.
Beberapa hakekat atau definisi dari matematika adalah
sebagai berikut:
a.
Matematika sebagai cabang ilmu pengetahuan eksak atau struktur yang teroganisir
secara sistematik.
Agak berbeda dengan ilmu pengetahuan yang lain, matematika
merupakan suatu bangunan struktur yang terorganisir. Sebagai sebuah struktur,
ia terdiri atas beberapa komponen, yang meliputi aksioma/postulat, pengertian
pangkal/primitif, dan dalil/teorema (termasuk di dalamnya lemma (teorema
pengantar/kecil) dan corolly/sifat).
b.
Matematika sebagai alat ( tool )
Matematika juga sering dipandang sebagai alat dalam mencari
solusi berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh
:
Siswa
menyelesaikan soal-soal matematika dan memecahkan masalahnya sehingga siswa di
tuntut untuk berfikir kreatif dan logis, seperti menjelaskan sifat matematika,
berbicara persoalan matematika, membaca dan menulis matematika dan
lain-lain.Menggunakan berbagai alat peraga/media pendidikan matematika seperti
jangka, kalkulator, dan sebagainya.
c.
Matematika sebagai pola pikir deduktif
Matematika merupakan pengetahuan yang memiliki pola pikir
deduktif, artinya suatu teori atau pernyataan dalam matematika dapat diterima
kebenarannya apabila telah dibuktikan secara deduktif (umum).
Contoh
:
Kegiatan
pembelajaran dapat dimulai dengan menyajikan beberapa contoh atau fakta yang
teramati, membuat daftar sifat-sifat yang muncul, memperkirakan hasil yang
mungkin, dan kemudian siswa dapat diarahkan menyusun generalisasi secara
deduktif. Selanjutnya, jika memungkinkan siswa dapat diminta membuktikan
generalisi yang diperolehnya secara deduktif
d.
Matematika sebagai cara bernalar (the way of thinking).
Matematika dapat pula dipandang sebagai cara bernalar,
paling tidak karena beberapa hal, seperti matematika memuat cara pembuktian
yang sahih (valid), rumus-rumus atau aturan yang umum, atau sifat penalaran
matematika yang sistematis
Contoh
:
Matematika
memuat cara pembuktian yang sahih (valid), rumus-rumus atau aturan yang umum,
atau sifat penalaran matematika yang sistematis.
e.
Matematika sebagai bahasa artifisial.
Simbol merupakan ciri yang paling menonjol dalam
matematika.Bahasa matematika adalah bahasa simbol yang bersifat artifisial,
yang baru memiliki arti bila dikenakan pada suatu konteks.
Contoh
:
Jika
kita mempelajari kecepatan berjalan dari sebuah benda, maka objek “kecepatan
gerak benda” dapat kita lambangkan dengan x. Dalam hal ini, x hanya mempunyai
arti “kecepatan gerak benda”. Di samping itu, lambing x tidak memiliki arti
majemuk lainnya. Jika kita ingin menghubungkan “kecepatan gerak benda” dengan
“jarak yang di tempuh benda” (dalam hal ini dilambangkan dengan ‘y’), maka kita
dapat melambangkan hubungan tersebut dengan lambang x = y/z di mana z
melambangkan “waktu yang ditempuh”.
f.
Matematika sebagai seni yang kreatif.
Penalaran yang logis dan efisien serta perbendaharaan
ide-ide dan pola-pola yang kreatif dan menakjubkan, maka matematika sering pula
disebut sebagai seni, khususnya merupakan seni berpikir yang kreatif.
Contoh :
Keindahan matematika berdasarkan
pola yg dituangkan dalam angka :
1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321
1.3.
Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran pada hakekatnya untuk mengembangkan
aktivitas dan kreativitas peserta didik, melalui berbagai interaksi dan
pengalaman belajar.Oleh
karena itu, situasi kegiatan pembelajaran perlu diusahakan agar aktifitas dan
kreativitas peserta didik dapat berkembangkan secara optimal peserta didik akan lebih kreatif
jika:
a. Dikembangkannya
rasa percaya diri pada peserta didik, dan mengurangi rasa takut,
b.
Memberi kesempatan pada seluruh peserta didik untuk berkomunikasi ilmiah secara bebas dan terarah,
c.
Melibatkan peserta didik dalam tujuan belajar dan evaluasinya,
d.
Memberikan
pengawasan yang tidak terlalu ketat dan tidak otoriter,
e.
Melibatkan
mereka secara aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran secara keseluruhan.
1.4.
Karakteristik Matematika
Karakteristik- karakteristik
matematika dapat dilihat pada penjelasan
berikut:
a.
Memiliki
Kajian Objek Abstrak.
Di dalam matematika objek dasar yang
dipelajari adalah abstrak, sering juga disebut sebagai objek mental.Di mana
objek-objek tersebut merupakan objek pikiran yang meliputi fakta, konsep,
operasi ataupun relasi, dan prinsip.Dari objek-objek dasar tersebut disusun
suatu pola struktur matematika. Adapun objek-objek tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Fakta (abstrak) berupa
konvensi-konvensi yang diungkap dengan simbol tertentu. Contoh simbol bilangan
“3” sudah di pahami sebagai bilangan “tiga”. Jika di sajikan angka “3”
maka sudah dipahami bahwa yang dimaksud adalah “tiga”, dan sebalikya. Fakta
lain dapat terdiri dari rangkaian simbol misalnya “3+4” sudah di pahami
bahwa yang dimaksud adalah “tiga di tambah empat”.
2. Konsep (abstrak) adalah ide
abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan
sekumpulan objek. Apakah objek tertentu merupakan suatu konsep atau bukan.
”segitiga” adalah nama suatu konsep abstrak, “Bilangan asli” adalah nama suatu
konsep yang lebih komplek, konsep lain dalam matematika yang sifatnya lebih
kompleks misalnya “matriks”, “vektor”, “group” dan ruang metrik”. Konsep
berhubungan erat dengan definisi.Definisi adalah ungkapan yang membatasi suatu
konsep.Dengan adanya definisi ini orang dapat membuat ilustrasi atau gambar
atau lambang dari konsep yang didefinisikan. Sehingga menjadi semakin jelas apa
yang dimaksud dengan konsep tertentu.
3. Operasi (abstrak) adalah
pengerjaan hitung, pengerjaan aljabar dan pengerjaan matematika yang lain.
Sebagai contoh misalnya “penjumlahan”, “perkalian”, “gabungan”, “irisan”.
Unsur-unsur yang dioperasikan juga abstrak.Pada dasarnya operasi dalam
matematika adalah suatu fungsi yaitu relasi khusus, karena operasi adalah
aturan untuk memperoleh elemen tunggal dari satu atau lebih elemen yang
diketahui.
4. Prinsip (abstrak) adalah
objek matematika yang komplek. Prinsip dapat terdiri atas beberapa fakta,
beberapa konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi ataupun operasi.Secara
sederhana dapatlah dikatakan bahwa prinsip adalah hubungan antara berbagai
objek dasar matematika.Prinsip dapat berupa “aksioma”,
“teorema”, “sifat” dan sebagainya.
b.
Bertumpu
Pada Kesepakatan.
Dalam matematika kesepakatan
merupakan tumpuan yang amat penting.Kesepakatan yang amat mendasar adalah
aksioma dan konsep primitif.Aksioma diperlukan untuk menghindarkan
berputar-putar dalam pembuktian.Sedangkan konsep primitif diperlukan untuk
menghindarkan berputar-putar dalam pendefinisian.Aksioma juga disebut sebagai
postulat (sekarang) ataupun pernyataan pangkal (yang sering dinyatakan tidak
perlu dibuktikan).Beberapa aksioma dapat membentuk suatu sistem aksioma, yang
selanjutnya dapat menurunkan berbagai teorema.Dalam aksioma tentu terdapat
konsep primitif tertentu.Dari satu atau lebih konsep primitif dapat dibentuk
konsep baru melalui pendefinisian.
c.
Berpola pikir Deduktif namun pembelajaran dan pemahaman konsep dapat diawali
secara induktif melalui pengalaman peristiwa nyata atau intuisi.
Dalam matematika sebagai “ilmu” hanya diterima pola pikir
deduktif.Pola pikir deduktif secara sederhana dapat dikatakan pemikiran “yang
berpangkal dari hal yang bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada hal
yang bersifat khusus”.Pola pikir deduktif ini dapat terwujud dalam bentuk yang
amat sederhana tetapi juga dapat terwujud dalam bentuk yang tidak sederhana.
Contoh:
Banyak teorema dalam matematika yang “ditemukan” melalui
pengamatan-pengamatan khusus, misalnya Teorema Phytagoras. Bila hasil
pengamatan tersebut dimasukkan dalam suatu struktur matematika tertentu, maka
teorema yang ditemukan itu harus dibuktikan secara deduktif antara lain dengan
menggunakan teorema dan definisi terdahulu yang telah diterima dengan benar.
Dari contoh prinsip diatas, bahwa
urutan konsep yang lebih rendah perlu dihadirkan sebelum abstraksi selanjutnya
secara langsung. Supaya hal ini bisa bermanfaat, bagaimanapun, sebelum kita
mencoba mengkomunikasikan konsep yang baru, kita harus menemukan apakontribusi
konsepnya; dan begitu seterusnya, hingga kita mendapat konsep primer yang lain.
d.
Memiliki simbol yang kosong dari arti
Dalam matematika jelas terlihat banyak sekali simbol yang
digunakan, baik berupa huruf ataupun bukan huruf.Rangkaian simbol-simbol dalam
matematika dapat membentuk suatu model matematika.Model matematika dapat berupa
persamaan, pertidaksamaan, bangun geometri tertentu, dsb. Huruf-huruf yang
digunakan dalam model persamaan, misalnya x + y = z belum tentu bermakna atau
berarti bilangan, demikian juga tanda + belum tentu berarti operasi tamba untuk
dua bilangan. Makna huruf dan tanda itu tergantung dari permasalahan yang
mengakibatkan terbentuknya model itu. Jadi secara umum huruf dan tanda dalam
model x + y = z masih kosong dari arti, terserah kepada yang akan memanfaatkan
model itu. Kosongnya arti itu memungkinkan matematika memasuki medan garapan
dari ilmu bahasa (linguistik).
e.
Memperhatikan semesta pembicaraan
Sehubungan dengan penjelasan tentang kosongnya arti dari
simbol-simbol dan tanda-tanda dalam matematika diatas, menunjukkan dengan jelas
bahwa dalam memggunakan matematika diperlukan kejelasan dalam lingkup apa model
itu dipakai. Bila lingkup pembicaraanya adalah bilangan, maka simbol-simbol
diartikan bilangan.Bila lingkup pembicaraanya transformasi, maka simbol-simbol
itu diartikan suatu transformasi.Lingkup pembicaraan itulah yang disebut dengan
semesta pembicaraan.Benar atau salahnya ataupun ada tidaknya penyelesaian suatu
model matematika sangat ditentukan oleh semesta pembicaraannya.
Contoh:
Dalam semesta pembicaraan bilangan bulat, terdapat model 2x
= 5. Adakah penyelesaiannya? Kalau diselesaikan seperti biasa, tanpa menghiraukan
semestanya akan diperoleh hasil x = 2,5. Tetapi kalu suda ditentukan bahwa
semestanya bilangan bulat maka jawab x = 2,5 adalah salah atau bukan jawaban
yang dikehendaki. Jadi jawaban yang sesuai dengan semestanya adalah “tidak ada
jawabannya” atau penyelesaiannya tidak ada.Sering dikatakan bahwa himpunan
penyelesaiannya adalah “himpunan kosong”.
f.
Konsisten dalam sistemnya
Dalam matematika terdapat banyak sistem. Ada sistem yang
mempunyai kaitan satu sama lain, tetapi juga ada sistem yang dapat dipandang
terlepas satu sama lain. Misal sistem-sistem aljabar, sistem-sistem geometri.
Sistem aljabar dan sistem geometri tersebut dapat dipandang terlepas satu sama
lain, tetapi dalam sistem aljabar sendiri terdapat beberapa sistem yang lebih
“kecil” yang terkait satu sama lain
KESIMPULAN
Materi Pelajaran adalah Pengetahuan, keterampilan, dan sikap
yang harus dikuasai peserta didik dalam rangka memenuhi kompetensi yang
ditetapkan. Bentuk Materi Pelajaran yaitu :1. Teori 2. Konsep 3. Generalisasi 4. Prinsip 5. Prosedur 6.
Fakta 7. Istilah 8. Contoh/ilustrasi 9. Definisi 10. Preposisi
Dalam
menentukan materi pembelajaran terdapat syarat-syarat yang harus diperhatiakn,
yaitu: Materi pelajaran hendaknya sesuai dengan/menunjang tercapainya tujuan
intruksional, Materi pembelajaran hendaknya sesuai dengan tingkat
pendidikan/perkembangan siswa pada umumnya, Materi pelajaran hendaknya
terorganisasi secara sistematik dan berkesinambungan, Materi pelajaran
hendaknya mencakup hal-hal yang bersifat faktual namun konseptual.
Kriteria materi
pembelajaran, diantaranya: kriteria tujuan instruksional, materi pelajaran
supaya terjabar, relevan dengan kebutuhan siswa, kesesuaian dengan kondisi
masyarakat, materi pelajaran mengandung segi-segi etik, materi pelajaran
tersusun dalam ruang lingkup dan urutan yang sistematik dan logis, dan materi.
Hal-hal yang harus
dipertimbangkan dalam penentuan dan pengembangan materi pelajaran adalah : 1)
potensi peserta didik; 2) relevansi dengan karakteristik daerah; 3) tingkat
perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;
4) kebermanfaatan bagi peserta didik; 5) struktur keilmuan; 6) aktualitas,
kedalaman, dan keluasan Materi Pelajaran; 7) relevansi dengan kebutuhan peserta
didik dan tuntutan lingkungan; dan 8) alokasi waktu.
Daftar pustaka
Dimyati dan Mudjiono.2009.Belajar dan Pembelajaran.Jakarta:Rhineka Cipta.
Idris dan Marno.2008.Strategi
dan Metode Pengajaran.Jogjakarta:AR-Ruzz Media.
Rusman.2012.Model-Model
Pembelajaran.Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada.
Soetopo,Sungkowo.2011.Belajar
dan Pembelajaran.Palembang:Universitas Sriwijaya.
Suktikno,Sobry.2005.Pembelajaran
Efektif.Mataram:NTP Press.
Wiranatapura,Udin.2007.Materi pokok belajar danPembelajaran.Jakarta:Universitas Terbuka.
Arifinmuslim.2010.Hakikat
Matematika dan Pembelajaran. Matematika.http://www.scribd.com/Hakikat
Matematika dan Pembelajaran Matematika.diakses tanggal 21 Oktober 2013.
Dwipratiwi,Hartika.2013.HakekatMatematika.http://hartikadwipratiwi.wordpress.com.di
akses tanggal 15 November 2013.
Faizin,Nurul.2011.Pengertian
Matematika dan Hakekat Matematika.http://Pengertian Hakekat
Matematika.blogspot.com.di akses tanggal 21 Oktober 2013.